Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional

 

Gambar Taman Siswa
(Sumbe: matapadi.co)

Perjalanan Pendidikan Nasional 

        Pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa lepas dari diri manusia. Pendidikan tidak hanya berbentuk pengajaran yang memberikan pengetahuan kepada murid, akan tetapi juga mendidik keterampilan berpikir dan mengembangkan kecerdasan batin. Tugas seorang guru adalah salah satunya yaitu harus bisa membangun kedekatan emosional kepada anak didik agar guru bisa dengan mudah menyampaikan ilmu dan menerapkan metode belajar dengan baik.

        Pendidikan di Indonesia telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Mulai dari masa penjajahan kolonial Belanda hingga saat kini. Transformasi pendidikan terjadi pada masa pemerintahan Belanda, saat itu tokoh tokoh pejuang pendidikan berusaha untuk mendorong perkembangan pendidikan oleh karena itu pendidikan mulai dianggap penting. Pada masa itu, sistem pendidikan kota mengizinkan gubernur mendirikan sekolah. Maka, para bupati mendirikan sekolah-sekolah kabupaten yang hanya melatih para calon pegawai. Sekolah Bumiputera didirikan untuk masyarakat kelas bawah, dimana hanya diajarkan membaca, menulis dan berhitung. Tujuannya adalah untuk mendidik orang orang yang dapat mendorong usaha dagang pemerintah hindia belanda. Oleh karena itu, para pelajar yang melihat kondisi tersebut, tergerak hatinya untuk melakukan melakukan transformasi pendidikan bangsa Indonesia. Salah satu tokoh yang berperan dalam perubahan pendidikan Indonesia yang dijuluki sebagai bapak pendidikan nasional ialah Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara pada saat itu beberapa kali di asing hingga dia harus pergi ke Belanda namun di masa pengasingannya beliau semakin bersemangat untuk membangkitkan pendidikan di Indonesia maka dari itu beliau mencurahkan perhatiannya dalam bidang pendidikan sebagai bentuk perjuangan meraih kemerdekaan. Salah satu buku yang menginspirasi beliau adalah buku filosofi dan kurikulum Maria Montessori. Dimana kurikulum Maria Montessori yang digunakan oleh berbagai negara maju dalam sistem pendidikannya. Dengan ilmu tersebutlah yang menjadi dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai dasar pendidikan indonesia. Salah satu pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani. Maka, pendidikan harusnya memerdekakan manusia, menghasilkan manusia yang selamat dan bahagia. Untuk itu seorang pendidik harus dapat mengajarkan hal hal penting yang dapat peserta didik gunakan baik di lingkungan sekolah atau dilingkan sosial masyarakat.

Ki Hadjar Dewantara percaya bahwa pendidikan itu punya tiga peran penting yaitu yang pertama memajukan dan menjaga diri, yang kedua memelihara dan menjaga bangsa dan yang ketiga memelihara dan menjaga dunia. Ki Hadjar Dewantara menyebut ini sebagai filosofi Tri Sri Rahayu dia percaya bahwa semua itu terhubung dan semuanya berkontribusi pada kepentingan yang lebih besar. Arti dari filosofi tersebut ialah ketika kita berhasil menjadi orang orang merdeka yang bahagia tentunya akan mempengaruhi lingkungan sekitar kita baik keluarga, pertemanan atau orang-orang sekitar kita dan ketika masyarakat telah merdeka atau maju maka akan berdampak kepada kemajuan suatu negara. Oleh karena itu, prinsip pembelajaran yaitu Tut Wuri Handayani yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi semboyan resmi dari implementasi sistem pendidikan nasional yang digunakan saat ini. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan akan memerdekakan manusia dari aspek kehidupan melalui pendidikan dan hal inilah diadaptasi dan diimplementasikan pada kurikulum saat ini yaitu kurikulum Merdeka Belajar.

Pendidikan di Indonesia pada Abad ke-21

Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya. Dikatakan abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Dengan sendirinya abad ke-21 meminta sumberdaya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga yang dikelola secara profesional sehingga membuahkan hasil unggulan. Tuntutan-tuntutan yang serba baru tersebut meminta berbagai terobosan dalam berfikir, penyusunan konsep, dan tindakan-tindakan. Saat ini, pendidikan berada di masa pengetahuan (knowledge age) dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar biasa. Percepatan peningkatan pengetahuan ini didukung oleh penerapan media dan teknologi digital yang disebut dengan information super highway.

Indonesia saat ini sedang berada pada era Revolusi Industri 4.0. Pembelajaran ini tidak lagi berfokus pada penerapan budaya. Namun, ini berfokus pada pemikiran kritis dan keterampilan memecahkan masalah, keterampilan komunikasi, kreativitas dan inovasi, dan kolaborasi. Pada titik ini, teknologi adalah sarana utama untuk melaksanakan proses pembelajaran. Sebagai guru, kita harus meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan teknologi dan dapat menggunakan teknologi untuk memajukan pembelajaran dengan cara yang menghasilkan siswa atau peserta didik yang memiliki keterampilan abad ke-21.

Namun, kondisi pendidikan saat ini masih memiliki banyak kekurangan dari berbagai aspek. Contohnya seperti pendidikan masih terfokus pada aspek politik, misalnya saja kurikulum yang terus berganti mengikuti pergantian menteri yang duduk di pemerintahan. Pembelajaran yang masih terpaku dengan nilai dan belum berpihak pada murid. Serta kualitas SDM dan gaji guru yang masih jauh dari harapan. Selain itu fasilitas pendidikan yang masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia juga menjadi PR dalam pendidikan kita. Untuk ke depannya kita membutuhkan solusi atas pekerjaan-pekerjaan rumah tersebut. Kita membutuhkan ruang untuk pengembangan minat dan bakat siswa dan kebebasan pada murid untuk mengembangkan potensi dirinya. Guru sebagai pendidik juga perlu diberikan kebebasan dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya terpaku dengan kurikulum tertentu. Serta tentu saja harapannya ada solusi atas masalah upah dan gaji yang sejak dulu masih menjadi PR pemerintah. Pendidik harus terus belajar untuk mengembangkan potensi diri dan profesionalitasnya sebagai guru agar bisa menyampaikan ilmu pengetahuan kepada murid-murid dan membimbing siswa menjadi manusia dan pribadi yang lebih baik agar menjadi generasi penerus bangsa yang lebih baik dari generasi sebelumnya. 

Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Gambar Ki Hajar Dewantara
(Sumber: voi.id)

Pemikiran saya sebelum mempelajari pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah bahwa tugas seorang guru hanya mengajarkan mata pelajaran agar peserta didik dapat unggul dalam akademis. Saya juga tidak sepenuhnya memahami apa artinya kalimat memanusiakan manusia dan bagaimana cara memanusiakan manusia sehingga saya berpikir bahwa akan lebih mudah bagi seorang guru untuk mencapai tujuan pembelajaran jika peserta didik dididik dan diajar dengan ketat dan tegas, dan cara yang tepat untuk menumbuhkan sikap disiplin mereka dengan cara memberi hukuman berupa teguran, berdiri depan atau membersihkan lingkungan sekolah kelas agar mereka tidak melanggar aturan kelas dan sekolah. Jadi menurut saya hanya guru yang berperan penting dalam proses pembelajaran, hanya gurulah dapat mengatur sebagaimana proses pembelajaran seharusnya.

Setelah saya tahu tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya memahami arti dari kata pendidik. Selain mengajar, guru adalah seorang pendidik yang tugas untuk mentransfer ilmu yang mereka miliki dan mendidik adalah perubahan sikap kepada peserta didik. Dalam proses pembelajaran, guru harus bisa memberikan perhatian, menghargai setiap pencapaian peserta didik dan merencanakan pembelajaran berdasarkan kebutuhan mereka. Maka dari itu seorang guru tidak harus dengan memberikan hukuman-hukuman untuk memberikan pemahaman bahwa mereka telah melakukan kesalahan karena ini berdampak pada mental anak, mereka akan memiliki pemikiran negatif sehingga mereka akan membatasi diri mereka, mereka juga akan takut membuat kesalahan. Sebagaimana yang pernah saya rasakan ketika saya duduk dibangku sekolah dimana guru saya menghukum saja saat itu tanpa tahu apa kesalahan saya. Sehingga saya takut untuk melakukan kesalahan. Jadi sebaiknya dalam proses pembelajaran juga guru tidak harus keras dalam mengajarnya, guru harus lebih sabar dan mengetahui motif siswa melakukan tindakan-tindakan tersebut sehingga guru mampu menemukan solusi yang tepat untuk menghadapi setiap permasalahan yang dilakukan oleh anak dan saya pun paham bahwa peserta didik memiliki peran yang sama pentingnya dengan seorang guru. Seharusnya guru menjadi fasilitator yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam menemukan jawaban permasalah mereka, membantu mereka berpikir akan suatu fenomena yang ada disekitarnya, membantu mereka menemukan potensi mereka, jadi peserta didik yang sebaiknya menentukan bagaimana proses pembelajarannya yang seharusnya berlangsung dan saya pun mengerti bahwa peserta didik bukanlah objek utama dalam pembelajaran di kelas melainkan subjek dalam proses pembelajaran.



Komentar

Postingan Populer