APA SIH AUTOIMUN? APAKAH PEJUANG AUTOIMUN BISA SEMBUH?
Apa sih autoimun itu
Banyak orang yang masih awam dengan istilah autoimun. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi dan Imunologi Klinik Mayapada Hospital sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Prof Dr dr Iris Rengganis Sp PD-KAI, FINASIM, mengatakan, autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya berfungsi menyerang dan mengeliminasi kuman justru menyerang sel-sel tubuhnya sendiri.
Serangan sel imun tersebut dapat menimbulkan gejala sistemik yang mencakup berbagai macam organ. Menurut Profesor Iris, penyebab penyakit autoimun belum diketahui pasti sampai saat ini. Namun, faktor individu dan lingkungan disinyalir menjadi pemicu penyakit tersebut. Faktor individu yang dimaksud adalah kerentanan genetik yang diturunkan dari generasi ke generasi. “Sementara itu, faktor lingkungan bisa berupa pola makan yang tidak sehat, stres psikologis, sampai intensitas bekerja yang berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya penyakit autoimun pada individu yang rentan,” kata Prof Iris dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (23/8/2021).
Profesor Iris melanjutkan, seiring perkembangan
pola hidup manusia, penyakit autoimun tidak hanya menyerang masyarakat di
negara nontropis, tapi juga masyarakat yang tinggal di daerah tropis. Salah
satunya adalah Indonesia. Di negara nontropis yang memiliki musim dingin,
lanjut Prof Iris, matahari terkadang tidak cukup menyinari sehingga penduduk
kerap mengalami winter depression. Depresi jenis ini dapat membuat keadaan
sistem kekebalan tubuh menurun. Menurutnya, agar terhindar dari penyakit
autoimun, orang dengan kondisi tersebut dianjurkan mengonsumsi vitamin D.
Nutrien ini dapat menggantikan cahaya matahari yang kurang terserap
oleh tubuh. Perlu diketahui, cahaya matahari membantu pembentukan vitamin
D di dalam tubuh.
“Hal tersebut berbeda dengan orang yang tinggal di
negara tropis. Karena matahari bersinar hampir sepanjang musim, kebutuhan
vitamin D dapat terpenuhi hanya dari asupan makanan,” kata Prof Iris.
Meski demikian, terdapat berbagai faktor yang
membuat orang yang tinggal di negara tropis menjadi rentan terserang penyakit
autoimun. Faktor tersebut adalah kualitas udara yang buruk, lingkungan,
tingginya tingkat stres, pola makan buruk, dan kurangnya aktivitas fisik karena
kesibukan.
Gejala penyakit autoimun
Profesor Iris menjelaskan, penyakit autoimun
memiliki dampak yang beragam terhadap tubuh. Sebagian besar penyakit autoimun
bersifat sistemik sehingga gejala yang timbul tergantung pada organ yang
terkena. Ia mencontohkan, jika penyakit autoimun menyerang sistem darah,
penderita akan mudah merasa lelah, mudah terkena infeksi, sampai mudah
mengalami pendarahan. Lalu, jika autoimun menyerang sendi, gejala yang timbul
adalah nyeri dan bengkak pada persendian, baik sendi besar maupun kecil.
“Pada kondisi berat, penyakit autoimun, seperti
lupus, bisa menyerang otak sehingga bisa menyebabkan penderitanya kejang.
Sementara, bila menyerang ginjal dalam waktu yang lama, penyakit ini dapat
menimbulkan kerusakan berat pada ginjal, seperti kebocoran ginjal dan gagal
ginjal kronis,” ujar Prof Iris.
Jenis-jenis penyakit autoimun
Penyakit autoimun memiliki banyak jenis. Bahkan,
jumlahnya bisa mencapai 100 jenis. Meski demikian, terdapat penyakit autoimun
yang sering ditemui, yakni lupus eritematosus sistemik, sinProfom sjogren,
anemia hemolitik autoimun, rheumatoid arthritis, dan scleroderma. Profesor Iris
mengatakan, penyakit lupus eritematosus sistemik kerap menyerang wanita dan
orang-orang pada usia muda. Penyakit ini kerap menimbulkan gejala multiorgan. Penyakit
autoimun lain yang cukup sering ditemukan adalah rheumatoid arthritis. Penyakit
ini juga kerap menyerang wanita dengan berbagai gejala yang timbul pada
persendian, baik sendi besar maupun kecil.
“Gejala yang timbul adalah bengkak dan nyeri pada
sendi,” kata Prof Iris.
Selain menyerang orang dewasa, penyakit autoimun
juga dapat menyerang anak-anak. Jenis penyakit autoimun yang kerap menyerang
anak adalah juvenile idiopathic arthritis (JIA). JIA, jelas Prof Iris,
menyerang sendi pada anak. Hampir mirip dengan rheumatoid arthritis, gejala penyakit
ini adalah nyeri dan bengkak pada lebih dari satu sendi, baik sendi besar
maupun kecil. Penyakit autoimun lain yang dapat menyerang anak adalah
idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP). Penyakit autoimun ini menyerang
sel-sel keping darah (trombosit) pada tubuh anak.
“Penurunan trombosit pada anak dalam jumlah berat
dapat menyebabkan timbulnya pendarahan, seperti mudah lebam dan gusi berdarah,”
ujar Prof Iris.
Ia melanjutkan, penyakit autoimun tidak berbahaya
bila dapat dikontrol dengan baik. Sebaliknya, penyakit autoimun yang tak
dikontrol dan kambuh dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Penyakit lupus,
misalnya, bisa menyebabkan kerusakan otak, penurunan kesadaran, sampai timbul
kejang.
“Pada ginjal, autoimun dapat menyebabkan penurunan
fungsi ginjal berat sampai cuci darah. Sementara, jika terkena jantung dapat
menyebabkan gangguan pompa jantung,” ujarnya.
Penanganan penyakit autoimun
Menurut Prof Iris, penyakit autoimun tidak dapat
disembuhkan, sama seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) dan penyakit
kencing manis (diabetes). Meski demikian, pasien tetap bisa menjalani aktivitas
sehari-hari layaknya orang normal yang sehat selama penyakit ini dikontrol
dengan baik. Pasien yang menderita penyakit autoimun harus berkomitmen dan
bersungguh-sungguh supaya bisa mencapai tingkat kontrol yang baik.
“Berbagai tindakan yang bisa dilakukan adalah minum
obat secara teratur, menjaga pola makan yang sehat, serta olahraga yang cukup,”
ujar Prof Iris.
Sementara untuk perawatan, lanjut Prof Iris,
penderita autoimun harus berobat ke dokter. Sebab, menurutnya, diagnosis awal
penderita autoimun cukup sulit sehingga perlu ditangani dokter spesialis yang
ahli dalam bidang autoimun. Setelah diagnosis, penderita harus menjalani pola
hidup sehat serta makan teratur dengan gizi seimbang.
“Penderita juga harus mengurangi stres, rutin
berolahraga, mengonsumsi obat teratur, dan kontrol rutin ke dokter,” ujar Prof
Iris.
Pencegahan penyakit autoimun
Cara terbaik untuk mencegah penyakit autoimun menyerang tubuh adalah menerapkan pola hidup sehat, makan makanan bergizi seimbang dan teratur, olahraga secara rutin, mengurangi stres, serta menjaga berat badan ideal. “Jika perlu, lakukan skrining dan konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi dan imunologi untuk mencegah timbulnya penyakit autoimun. Terlebih, pada individu yang memiliki kerentanan genetis,” ujarnya.

Komentar
Posting Komentar